Jumat, 02 Maret 2018

Bawang Sangrai (Kisah Petani Bawang di Silalahi Juni 2016)



BAWANG SANGRAI
OLEH : ARTA MORA SIMANJUNTAK*

“Prankkk...” Tangan yang masih diwarnai coklatnya tanah terkepal, menggenggam ribuan asa yang telah hancur
“Heh..Lagi-lagi turun harga bawang saat kita membutuhkan banyak uang untuk sekolah anak-anak kita.” Ucap pria dengan urat-urat tangannya yang timbul hingga sebesar wayar listrik
            Dengan peluh yang tanpa sadar terus mengalir dari dahi penuh keriput yang hitam legam, kusam, sekusam nasib mereka kali ini.
“Sabarlah dulu bapak, baru pun kita pulang.” Saran ibu sambil meletakkan topi capingnya
“Bagaimana aku mau sabar mak. Takkah kau lihat cara pandang si tengkulak tadi? Menatap kita tajam lalu apa hasilnya? Tak ada orang mau membeli bawang-bawang kita.” Keluh bapak sambil menyenderkan badannya pada dinding tepas yang telah habis dimakan rayap pada bagian bawahnya
            Badan kurus bapak bersandar pada dinding dengan punggung sebagai tumpuan. Pandangan bapak menjelajah tingginya awan, lalu buyar tanpa sisa.
“Sabarlah dulu pak kita lihat saja nanti mana tahu ada perubahan.” Bujuk mamak sambil memegang pundak bapak
Seakan mentransfer energi positifnya, mamak pun duduk disamping bapak. Lama bapak dan mamak duduk diam mengarah ke pintu dapur yang didepannya ada sebuah kandang ayam yang besar. Namun, didalamnya hanya tinggal beberapa ekor ayam saja. Kandang itu seperti melebar dipandangan mereka, lalu bapak berdiri lagi.
“Ah, tak habis pikir aku. Bawang kita yang biasanya laku Rp 22.000,- per kilo. Sekarang hanya bernilai Rp 5.000,- saja pada tengkulak itu. Geram sekali aku rasanya, padahal itu semua buat sekolah anak kita. Mati-matian kita jaga seperti anak sendiri tapi saat dipanen tak ada harga buat peluh kita mak.” Ratap bapak lalu memegangi sebuah meja hitam didapur
            Meja itu dulu berwarna coklat hanya karena debu yang begitu tebal hingga dia perlahan bertransformasi menjadi hitam yang kelam. Bagaimana tidak? Meja itulah gembaran dari sulitnya hidup yang dialami mamak dan bapak dikampung Silala. Sibuk seharian bekerja demi sesuap nasi hingga hal lainnya kadang terabaikan. Terkadang dan bahkan sering “Demi” tak tercapai.
“Itu hanya karna kita kurang cepat kerjanya pak. Besok mari kita pergi lebih cepat keladang dan datang kepasar lebih awal juga menawarkan bawang kita.” Saran mamak
“Ya, bapak rasa itu lebih baik kita bekeraja lebih cepat dan menjual bawang kita langsung ke pasar.”
“Lagian mamak dengar tadi para pedagang dipasar mau beli bawang petani dengan harga Rp8.000,- perkilo. Kalo kita beruntung besok, paling tidak  uang buku anak-anak bisa kita berikan biarpun sedikit.”
“Iya mak, bapak setuju.”
***
            Ditengah pembicaraan mereka, muncul bayang-bayang dua orang yang semakin mendekat ke arah rumah.
“Horas!!” Seru dua anak laki-laki memecah pembicaraan kedua orangtua itu
“Loh.. Kok lama kali kalian pulang nak?” Tanya mamak
“Tadi kami baca koran, ditulis disitu ini musim panen raya bawang daerah Jawa makanya harga bawang Toba turun drastis. Jadi kami sepakat tadi sepulang sekolah untuk kerja diladang orang.” Jelas Sangap, anak pertama mereka
“Tapi kak Mora tidak ikut ambil gaji keladang orang mak. Dia beruntung karena ibu guru minta dia bantu ibu guru nyuci gosok. Kakak dapat Rp 20.000,- . Sedangkan abang dan aku masing-masing dapat Rp 15.000,- saja.” Ucap Padot, anak paling kecil mereka yang baru kelas 3 SD
“Mora pulang. Ada apa ini kok rame sekali?” Tanya Mora yang datang lalu meletakkan dua ember air dilantai tanah dapur mereka
“Tak apa-apa sini nak.” Ucap mamak lalu memeluk ketiga anaknya
“Oh iya mak. Ini Rp 20.000,- untuk mamak dan bapak, kami ambil Rp 10.000,- satu orang.” Jelas Sangap
“ Maafkan bapak ya karena tidak bisa buat kalian senang seperti anak-anak yang lain.” Ucap bapak dengan tetesan air yang telah membasahi wajahnya
“Kamilah yang seharusnya minta maaf pak. Maaf karena telah membuat bapak dan mamak berhutang demi sekolah kami.” Jelas Mora membalas rangkulan keluarganya
“Tidak... Tidak... Ini bukan beban kita tapi hak kita, jadi kita tidak boleh merasa susah.” Ucap Sangap yang wajahnya terbenam dalam bahu mamak
            Sekali lagi keluarga kecil itu berpelukan sambil menitihkan air. Air yang timbul dari aroma khas bawang Toba yang menusuk mata dan hidung yang menggenggamnya. Bawang yang rapuh jika digoreng begitu pula perasaan keluarga ini. Lalu nikmatnya entah siapa yang merasakannya.
***
            Belum lagi mentari mengintip, keluarga bawang dari kampung Silala Republik Mundur Terus telah bangun. Biar Republik tidak memperhatikan atau kampung pun tak peduli. Tapi mereka tetap bergegas menata keperluan masing-masing.
“Ayo berangkat!!” Ajak bapak sambil meraih peralatan ke ladangnya
            Dibelakang ibu membawa gulungan kecil berisi ubi rebus sebagai bekal ke ladang, anak-anak membaca sambil berjalan.  Dipersimpangan jalan mereka berpisah, anak-anak sebagai norma kesopanan menyalam tangan kedua orangtuanya pengganti mohon restu dari sang Khalik. Saat punggung orangtua merek tak terlihat dimakan tikungan jalan yang tajam, barulah ketiga anak muda itu berlari terus dengan ubi rebus ditangan menyongsong kearifan kehidupan duniawi.
            Bawang yang mereka tanam layaknya antologi kehidupan mereka. Biarlah tampak keras tak bisa di cerna. Dengan asa yang tetap terjaga, kupas terus lapisan luarnya. Saat waktunya tiba, bagian bawang yang harum dan nikmat telah menanti.
Penulis adalah penikmat sastra dan sedang studi di jurusan Pend. Ekonomi prodi Pend. Akuntansi Unimed.

Bawang Sangrai