BAWANG SANGRAI
OLEH : ARTA MORA
SIMANJUNTAK*
“Prankkk...”
Tangan yang masih diwarnai coklatnya tanah terkepal, menggenggam ribuan asa
yang telah hancur
“Heh..Lagi-lagi
turun harga bawang saat kita membutuhkan banyak uang untuk sekolah anak-anak
kita.” Ucap pria dengan urat-urat tangannya yang timbul hingga sebesar wayar
listrik
Dengan peluh yang tanpa sadar terus
mengalir dari dahi penuh keriput yang hitam legam, kusam, sekusam nasib mereka
kali ini.
“Sabarlah
dulu bapak, baru pun kita pulang.” Saran ibu sambil meletakkan topi capingnya
“Bagaimana
aku mau sabar mak. Takkah kau lihat cara pandang si tengkulak tadi? Menatap
kita tajam lalu apa hasilnya? Tak ada orang mau membeli bawang-bawang kita.”
Keluh bapak sambil menyenderkan badannya pada dinding tepas yang telah habis
dimakan rayap pada bagian bawahnya
Badan kurus bapak bersandar pada
dinding dengan punggung sebagai tumpuan. Pandangan bapak menjelajah tingginya
awan, lalu buyar tanpa sisa.
“Sabarlah
dulu pak kita lihat saja nanti mana tahu ada perubahan.” Bujuk mamak sambil
memegang pundak bapak
Seakan
mentransfer energi positifnya, mamak pun duduk disamping bapak. Lama bapak dan
mamak duduk diam mengarah ke pintu dapur yang didepannya ada sebuah kandang
ayam yang besar. Namun, didalamnya hanya tinggal beberapa ekor ayam saja.
Kandang itu seperti melebar dipandangan mereka, lalu bapak berdiri lagi.
“Ah,
tak habis pikir aku. Bawang kita yang biasanya laku Rp 22.000,- per kilo.
Sekarang hanya bernilai Rp 5.000,- saja pada tengkulak itu. Geram sekali aku
rasanya, padahal itu semua buat sekolah anak kita. Mati-matian kita jaga
seperti anak sendiri tapi saat dipanen tak ada harga buat peluh kita mak.”
Ratap bapak lalu memegangi sebuah meja hitam didapur
Meja itu dulu berwarna coklat hanya
karena debu yang begitu tebal hingga dia perlahan bertransformasi menjadi hitam yang kelam. Bagaimana tidak? Meja
itulah gembaran dari sulitnya hidup yang dialami mamak dan bapak dikampung
Silala. Sibuk seharian bekerja demi sesuap nasi hingga hal lainnya kadang
terabaikan. Terkadang dan bahkan sering “Demi”
tak tercapai.
“Itu
hanya karna kita kurang cepat kerjanya pak. Besok mari kita pergi lebih cepat
keladang dan datang kepasar lebih awal juga menawarkan bawang kita.” Saran
mamak
“Ya,
bapak rasa itu lebih baik kita bekeraja lebih cepat dan menjual bawang kita
langsung ke pasar.”
“Lagian
mamak dengar tadi para pedagang
dipasar mau beli bawang petani dengan harga Rp8.000,- perkilo. Kalo kita
beruntung besok, paling tidak uang buku
anak-anak bisa kita berikan biarpun sedikit.”
“Iya
mak, bapak setuju.”
***
Ditengah pembicaraan mereka, muncul
bayang-bayang dua
orang yang semakin mendekat ke arah rumah.
“Horas!!”
Seru dua anak laki-laki memecah pembicaraan
kedua orangtua itu
“Loh..
Kok lama kali kalian pulang nak?” Tanya mamak
“Tadi
kami baca koran, ditulis disitu ini musim panen raya bawang daerah Jawa makanya
harga bawang Toba turun drastis. Jadi kami sepakat tadi sepulang sekolah untuk
kerja diladang orang.” Jelas Sangap, anak pertama mereka
“Tapi
kak Mora tidak ikut ambil gaji keladang orang mak. Dia beruntung karena ibu
guru minta dia bantu ibu guru nyuci gosok. Kakak dapat Rp 20.000,- . Sedangkan
abang dan aku masing-masing dapat Rp 15.000,- saja.” Ucap Padot, anak paling
kecil mereka yang baru kelas 3 SD
“Mora
pulang. Ada apa ini kok rame sekali?” Tanya Mora yang datang lalu meletakkan
dua ember air dilantai
tanah dapur mereka
“Tak
apa-apa sini nak.” Ucap mamak lalu memeluk ketiga anaknya
“Oh
iya mak. Ini Rp 20.000,- untuk mamak dan bapak, kami ambil Rp 10.000,- satu
orang.” Jelas Sangap
“
Maafkan bapak ya karena tidak bisa buat kalian senang seperti anak-anak yang
lain.” Ucap bapak dengan tetesan air yang telah membasahi wajahnya
“Kamilah
yang seharusnya minta maaf pak. Maaf karena telah membuat bapak dan mamak berhutang
demi sekolah kami.” Jelas Mora membalas rangkulan keluarganya
“Tidak...
Tidak... Ini bukan beban kita tapi hak kita, jadi kita tidak boleh merasa
susah.” Ucap Sangap yang wajahnya terbenam dalam bahu mamak
Sekali lagi keluarga kecil itu
berpelukan sambil menitihkan air. Air yang timbul dari aroma khas bawang Toba
yang menusuk mata dan hidung yang menggenggamnya. Bawang yang rapuh jika
digoreng begitu pula perasaan keluarga ini. Lalu nikmatnya entah siapa yang
merasakannya.
***
Belum lagi mentari mengintip,
keluarga bawang dari kampung Silala Republik Mundur Terus telah bangun. Biar
Republik tidak memperhatikan atau kampung pun tak peduli. Tapi mereka tetap
bergegas menata keperluan masing-masing.
“Ayo
berangkat!!” Ajak bapak sambil meraih peralatan ke ladangnya
Dibelakang ibu membawa gulungan
kecil berisi ubi rebus sebagai bekal ke ladang, anak-anak membaca sambil
berjalan. Dipersimpangan jalan mereka
berpisah, anak-anak sebagai norma kesopanan menyalam tangan kedua orangtuanya
pengganti mohon restu dari sang Khalik. Saat punggung orangtua merek tak
terlihat dimakan tikungan jalan yang tajam, barulah ketiga anak muda itu
berlari terus dengan ubi rebus ditangan menyongsong kearifan kehidupan duniawi.
Bawang yang mereka tanam layaknya antologi kehidupan mereka. Biarlah tampak keras tak bisa di
cerna. Dengan asa yang tetap terjaga, kupas
terus lapisan luarnya. Saat waktunya tiba, bagian bawang yang harum dan nikmat
telah menanti.
Penulis adalah penikmat
sastra dan sedang studi di jurusan Pend. Ekonomi prodi Pend. Akuntansi Unimed.